Salah satu fase terpenting dalam kemerdekaan Indonesia adalah fase kebangkitan nasional yang banyak ditulis oleh sejarah dimulai dengan berdirinya organisasi Budi Utomo. Kebangkitan nasional adalah fase dimana seluruh komponen masyarakat mulai sadar akan pentingnya persatuan dan lebih terbukanya jalur kemerdekaan Indonesia melalui jalur organisasi dan jalur diplomasi. Dalam hal ini perlu digaris bawahi bahwa pada awal masa kebangkitan nasional salah satu faktor yang paling berpengaruh adalah gerakan nasionalisme-keagamaan.
Pemilihan gerakan nasionalisme-keagamaan sebagai faktor penting ini bukan tanpa alasan. Nasionalisme-keagamaan di Indonesia tentu mampu berkembang pesat di masa tersebut dikarenakan islam telah tersebar di seantero negeri dan dalam kelanjutannya persatuan islam yang dipelopori oleh Sarekat Islam akhirnya mampu menyatukan Indonesia dan melahirkan tokoh-tokoh penting yang memiliki kontribusi besar dalam memerdekakan Indonesia.
Sarekat Islam dari organisasi dagang bernama Sarekat Dagang Islam (SDI) yang berdiri tahun 1905 di Solo. Organisasi SDI didirikan oleh Haji Samanhoedi yang bertujuan untuk membentengi pedagang batik di Solo dari monopoli perdagangan yang menyebabkan banyak rakyat Indonesia jatuh ke dalam jurang kemiskinan. Melalui Sarekat Dagang Islam, Haji Samanhoedi mampu mempersatukan pengusaha batik di Solo dan menjadi pusat perlawanan secara ekonomi.
Sarekat Dagang Islam berhasil mewujudkan kebangkitan nasional menggunakan pola religio-economic development yang dipelopori oleh industri tekstil dan batik yang merupakan komoditas utama di pusat perniagaan seperti Kotagede di Yogyakarta, Laweyan di Surakarta, dan Kauman di Kudus. Selain itu kebangkitan nasional juga didorong oleh faktor pendidikan yang dipelopori oleh para priyayi yang memiliki peluang mengenyam pendidikan di luar negeri.
Pada perkembangannya organisasi ini tidak hanya diikuti kalangan pedagang tapi juga merambah ke kalangan priyayi, petani, dan militer. Dikarenakan meluasnya jaringan organisasi akhirnya organisasi tersebut bertransformasi menjadi Sarekat Islam. Organisasi Sarekat Islam ini kemudian dikembangkan oleh dua tokoh yang sangat berpengaruh, yaitu H.O.S Cokroaminoto dan KH. Agus Salim. Mereka lah yang kemudian menjadi salah satu penggerak kesadaran nasionalisme di Indonesia.
Perubahan Sarekat Dagang Islam menjadi Sarekat Islam bertujuan agar organisasi ini tidak hanya tertuju pada aspek ekonomi namun juga menyentuh segala aspek baik itu sosial maupun budaya. Dengan perubahan itulah Sarekat Islam mampu menjadi organisasi yang menyatukan masyarakat dan menjadi salah satu organisasi pelopor gerakan nasionalisme di Indonesia.
Sarekat Islam pada masa tersebut menjadi organisasi modern pertama yang mewadahi rakyat secara terbuka. Berbeda dengan Jami’atul Khair (1908) dan Budi Utomo (1908) yang terkesan eksklusif, SI menjadi organisasi massa yang pertama dan berjuang melawan kesenjangan. Walaupun awalnya terfokus pada gerakan struktural ekonomi Sarekat Islam kemudian berubah menjadi gerakan nasional yang dibuktikan dengan kriteria anggota yang tidak membedakan suku dan daerah tertentu.
Sarekat Islam pada kelanjutannya bertransformasi menjadi sebuah partai yang diberi nama Partai Sarekat Islam. Setelah berubah menjadi partai pergerakan SI yang awalnya terfokus pada sosial dan ekonomi menjadi terfokus pada dunia perpolitikan. Akan tetapi perubahan fokus tersebut menjadikan Sarekat Islam melemah kedudukannya.
Aktivitas Sarekat Islam dalam pergerakan nasional bisa dibilang cukup berhasil meskipun akhirnya harus tumbang dikarenakan infiltrasi dan kurangnya koordinasi antara pusat dan daerah. Dengan bergerak dalam bidang sosial, ekonomi, dan politik Sarekat Islam mampu menarik perhatian masyarakat dan membuat masyarakat menyadari bahwa segala sesuatu yang mereka keluhkan dan inginkan benar benar diperjuangkan.
Salah satu peran penting Sarekat Islam adalah dengan membuat forum-forum diskusi dan serap aspirasi yang membuat rakyat Indonesia memiliki fasilitas untuk saling bertukar pikiran dan memupuk persaudaraan. Peranan Sarekat Islam dalam pergerakan nasional ini lah yang membuat Sarekat Islam dapat disebut sebagai “Pengagas Nasionalisme Indonesia”.
Sumber :
Jahar, A. S. (2015). Transformasi Gerakan Ekonomi Islam Kontemporer. MIQOT: Jurnal Ilmu-Ilmu Keislaman, 39(2).
Tamara, A. Sarekat Islam Penggagas Nasionalisme di Indonesia. Rihlah: Jurnal Sejarah dan Kebudayaan, 8(1), 66-84.

sumber: kumparan.com