Islamophobia
Oleh: Syafrudin Djosan
Kata islamofobia belakangan jadi sorotan sebagian orang, gegara Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) mengeluarkan resolusi yang menarik. Majelis Umum PBB pada 15 Maret 2022 bersidang, dihadiri 193 anggota, secara aklamasi ketok palu menerima resolusi bahwa 15 Maret ditetapkan sebagai Hari Perlawanan terhadap Islamophobia, Combating Islamophobia.
Lalu sebagian kita bertanya, apa sih fobia itu? Intinya adalah penyikapan orang-orang yang ‘merasa’ fobia/phobia atau ‘takut, khawatir, cemas’ terhadap sesuatu. Wikipedia menuliskan: “Ketakutan fobia merupakan kondisi keterbatasan karena dorongan kecemasan dan ketakutan akan sesuatu. Fobia bisa dikatakan dapat menghambat orang yang mengidapnya. Fobia dapat membatasi keberadaan ruang gerak seseorang melalui rasa cemas dan takut.”
Pada konteks Islam, maka Islamofobia boleh dimaknakan sebagai cara ‘menjerat’ pikiran dan perasaan siapa pun untuk merasa takut atau khawatir terhadap Islam, dan oleh karena itu harus waspada dan hati-hati terhadap Islam, baik ajaran, doktrin, dan termasuk penganutnya; sebab mereka berbahaya. Maka tak syak lagi, tema-tema manis yang berbalut kata indah seperti radikal, rasis, ekstrem, teror, sadis dan yang sebangsanya menjadi bumbu penyedap ‘masakan’ Islamofobia itu.
Lalu siapa-siapa sajakah yang ‘teridap’ penyakit Islamofobia itu? Ini yang menarik, karena dalam logika standar yang seharusnya teridap adalah kalangan bukan Islam. Ternyata gak begitu, karena konon justru Islamofobia itu terjadi dan terjangkiti di sebagian kalangan muslim sendiri. Mengapa begitu? Boleh jadi saking hebat dan gencarnya propaganda tentang Islam yang dicitrakan sebagai agama atau ajaran yang di dalamnya kuat mengandung unsur kekerasan dan kekejaman, bahkan menjadi ancaman bagi umat lain. Frasa ‘jihad’ pun jadi semacam ‘biang keladi’ untuk kemudian orang-orang dengan seenaknya menerjemah (baca menuduh) sebagai dasar pembenaran di dalam Islam untuk penganutnya melakukan kekerasan untuk sebuah tujuan. Aih.
Padahal kata ‘jihad’ itu maknanya adalah bersungguh-sungguh. Mengutip dari buku Panduan Jihad untuk Aktivis Gerakan Islam, Hilmy Bakar Almascaty (2001: 13) jihad dalam bahasa Arab berasal dari akar kata jahada-yajhadu-jahdan/juhdan yang diartikan sebagai ath-thaqah, al-mashaqqah, dan mubalaqah atau kesungguhan, kekuatan, dan kelapangan. Dari segi bahasa, secara garis besar jihad dapat diartikan sebagai penyeruan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah kemunkaran, penyerangan, pembunuhan, peperangan, penaklukan, menahan hawa nafsu, dan lain yang semakna dan mendekati.
Munculnya penyikapan terhadap Islamofobia tak bisa disalahkan, ketika banyak kasus kekerasan yang pelakunya mengembel-embeli perbuatan atau dirinya dengan dalih demi perjuangan membela Islam: Jihadu fi Sabilillah…. Berjuang demi (di jalan) Allah. Dan difahami pula bahwa ujungnya adalah jannah, masuk surga. Sesederhana itu. Maka format Islam sebagai ajaran yang menebarkan kasih-sayang bagi sekalian manusia (sarwasekalian alam) pun pupus dengan perilaku sebagian kecil orang-orang yang menggunakan kata jihad dalam terjemahan yang semacam itu, di seluruh belahan bumi ini. Stigma fobia terhadap Islam pun menjadi bagian yang mengilustrasi kehidupan orang-orang sejagat.
Lalu siapa pelaku atau orang yang mengembus-embuskan tema fobia Islam itu? Entahlah. Siapa yang memulai dan siapa pula yang memainkan itu. Kita tak patut menuduh. Yang pasti mereka adalah orang atau kelompok yang memang dalam hati dan pikirannya menggelayut rasa kebencian dan tidak suka terhadap Islam. Apa yang dilakukan secara kasuistis oleh orang per seorang atau kelompok tertentu yang dilabeli ekstrem, teror, dan radikal itu — yang kebetulan pelakunya muslim lalu digeneralisasi dengan stempel buruk: Itulah Islam. Hal sebaliknya, jika perbuatan atau tindakan yang sama dilakukan oleh mereka yang bukan Islam tidak serta-merta dicap sebagai “perbuatan agama tertentu” tetapi hanya ‘dipersalahkan’ kepada pelakunya saja yang disebut bertindak sebagai ekstremis, teroris, atau radikalis. Inilah bentuk ketidakadilan yang ditimpakan kepada umat Islam.
Di awal-awal tren kaum perempuan mengenakan busana muslimah juga sempat terjadi fobia dari beberapa kalangan. Tapi ketika ia menjadi arus bah yang tiada tertolak, toh banyak Polwan yang kini mengenakan jilbab. Lalu bahayanya di mana? Terjadinya penahanan beberapa tokoh vokal terhadap pemerintah dan yang rada kental Islamnya, boleh jadi bagian dari tren fobia-Islam, yang terjadi di negera kita, sampai-sampai negara jiran menolak kunjungan UAS baru-baru ini dengan alasan ‘khawatir’ masyarakat Singapura yang plural bisa terpengaruh oleh sebagian konten ceramah-ceramahnya yang dipandang kurang pas. Padahal, dengan telah hadirnya resolusi PBB tentang Combating Islamophobia, seharusnya semua negara menghormati itu.
Tanggal 15 Maret dijadikan sebagai Hari Anti-Islamofobia Sedunia. Syarikat Islam menangkap momentum ini sebagai kabar baik, yang kemudian membentuk Desk Anti-Islamofobia Syarikat Islam, dipimpin oleh Ferry J. Juliantono, yang kini menjabat selaku Sekretaris Jenderal Lajnah Tanfidziyah Syarikat Islam. Tujuannya, salah satunya, mengajak seluruh elemen dan eksponen umat Islam di Indonesia agar bergandengan tangan dalam rangka menebarkan program untuk menyurutkan atau membuang habis perasaan atau pikiran yang berkutat sekitar anti, cemas, dan takut terhadap Islam: Anti-Islamofobia. Membuang semua stigma itu dengan menjadikan Islam, umat Islam Indonesia khususnya, sebagai ummatan wassatha yang oleh MUI didawamkan sebagai Islam Wasathiyah atau Islam sebagai umat pertengahan, yang berdiri tegak tak ubahnya wasit dalam ‘pertandingan kehidupan’ yang sejatinya bersikap adil, fair, dan amanah terhadap siapa pun.
Mengapa SI berkepentingan merespon resolusi PBB tentang Anti-Islamofobia? Persoalannya adalah bahwa dunia sudah sedemikian hebatnya dijangkiti Islamofobia itu. Selebihnya adalah bahwa maksud dan tujuan dari pergerakan Syarikat Islam itu sendiri, tertulis “Menjalankan Dienul Islam dengan seluas-luas dan sepenuh-penuhnya dan bertujuan terciptanya suatu dunia Islam yang sejati guna terlaksananya kehidupan muslim yang sesungguhnya.” (Peraturan Dasar Syarikat Islam Pasal 7).
#edisi-ngopi-sore@menyahuti-potes-ketuaumum-pemudamuslim#
Kategori: Fokus Organisasi | Majelis Ilmu
Penulis adalah Wakil Ketua Dewan Pertimbangan PB Pemuda Muslimin Indonesia

sumber: pemudamuslim.org