Sebagai Kota Pahlawan, Surabaya memiliki banyak bangunan yang jadi saksi bisu perjuangan bangsa, maupun lahirnya tokoh nasional.

Beberapa diantaranya bahkan terekam dalam destinasi museum yang layak dimasukkan ke dalam bucket list kunjungan selama libur lebaran. Museum H.O.S Tjokroaminoto menjadi salah satu diantaranya.

Terletak di Jalan Peneleh VII Surabaya, Museum HOS Tjokroaminoto yang dulunya merupakan kediaman sang pahlawan semasa hidup ini, sudah dibuka dan mulai bisa dinikmati kembali sejak 4 Mei 2022.

“Buka sejak pukul 08.00 sampai 15.00 WIB. Sejak tadi pagi sudah ada kurang lebih 15 orang yang datang,” kata Ramadani Guide Museum H. O. S Tjokroaminoto, Rabu (5/4/2022) pada suarasurabaya.net.

Ramadani Guide Museum H.O.S Tjokroaminoto saat menerangkan dan menunjuk bukti sejarah di dalam pigura, Rabu (4/5/2022) Foto: Retha Yuniar

Bagunan Museum ini, tak hanya mengingatkan pada sosok dengan nama lengkap Raden Hadji Oemar Said Tjokroaminoto tersebut sebagai Bapak bangsa, tapi juga sosok Soekarno sebagai Presiden pertama dan anak kos gang peneleh lainnya.

“Tokoh Muso, Soekarno, Alimin, Semaun, Tan Malaka adalah pemuda-pemuda anggota kos gang peneleh yang ikut berperan sebagai penggerak kemerdekaan Republik Indonesia dan mewarnai corak perpolitikan kita pada masa itu,” terang Ramadani.

H. O.S Tjokroaminoto, kata Ramadani, merupakan salah satu figur terpenting yang menghidupkan kesadaran dan konsep kemerdekaan pada kala itu.

“Pak Tjokro ini lahir dari keluarga priyayi Madiun. Tapi ia tinggalkan atribut itu sebagai bentuk kritiknya terhadap sistem feodalisme,” imbuhnya.

Tjokroaminoto menyimpan gelar Radennya, dan memilih hidup membaur dengan masyarakat biasa serta turut memprotes feodalisme Bangsawan Belanda atas kaum pribumi dengan melakukan laku ndodok (berjalan jongkok).

“Tjokroaminoto adalah tokoh yang membangunkan pemikiran tentang kesetaraan. Mengarahkan kesadaran pribumi bahwa kita semua manusia bermartabat yang memiliki kedudukan yang sama. Dia sangat menentang feodalisme,” paparnya.

Ramadani juga menggambarkan sekilas sejarah tentang peran sosok Tjokroaminoto, yang menjadi punggawa Sarekat Dagang Islam (SDI) dan kemudian berubah menjadi Sarekat Islam (SI) pada tahun 1912.

Keanggotaan Sarekat Islam tidak hanya berasal dari Jawa, namun meluas hingga pulau Sumatera, Sulawesi, dan Maluku.

“Sosok Tjokroaminoto cukup sentral. Melalui gerakan itu, Tjokroaminoto menyebarkan narasi-narasi kebangsaan dan konsep awal kemerdekaan,” tambah dia.

Catatan kejadian bersejarah di Museum H.O.S Tjokroaminoto, Rabu (4/5/2022). Foto: Retha Yuniar suarasurabaya.net

Begitu banyak menyimpan kisah sejarah, museum dan tokoh-tokoh yang hidup di kawasan Peneleh Surabaya ini tak habis diceritakan dalam sehari.

“Sebenarnya menarik kalau terus digali dan di diskusikan ya,” kata Romadoni.

Sayangnya, kata Ramadani, pengunjung Museum di Surabaya masih sangat segmented dan terbilang minim jika dibanding angka kunjungan ke pusat perbelanjaan, taman kota dan pantai.

“Dari segi promosi saya juga ikut bantu via instagram Musea.surabaya. Tapi ini memang tantangan kita bersama untuk mengemas sejarah agar tetap menarik dan relevan untuk generasi muda,” pungkasnya.

sumber: suarasurabaya.net