Hati Yang Selamat Jaminan Kembali Menuju Kebahagiaan Abadi

Khatib: H. Ervan Taufiq, SE
KHUTBAH PERTAMA:
إنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ, نَحْمَدُهُ, وَنَسْتَعِينُهُ, وَنَسْتَغْفِرُهُ, وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا, وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا
مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ, وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ,
أَشْهَدُ أَنْ لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لَاشَرِيْكَ لَهُ، شَهَادَةَ مَنْ هُوَ خَيْرٌ مَّقَامًا وَأَحْسَنُ نَدِيًّا.
 وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا محَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الْمُتَّصِفُ بِالْمَكَارِمِ كِبَارًا وَصَبِيًّا.
 اَللَّهُمَّ فَصَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَانَ صَادِقَ الْوَعْدِ وَكَانَ رَسُوْلاً نَبِيًّا، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ الَّذِيْنَ يُحْسِنُوْنَ إِسْلاَمَهُمْ وَلَمْ يَفْعَلُوْا شَيْئًا فَرِيًّا،
 أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ رَحِمَكُمُ اللهُ، اُوْصِيْنِيْ نَفْسِيْ وَإِيَّاكُمْ بِتَقْوَى اللهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ.
قَالَ اللهُ تَعَالَى :
                              أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ
                                     يَوْمَ لَا يَنْفَعُ مَا لٌ وَّلَا بَنُوْنَ ۙ
Alhamdulillah, atas nikmat dan karunia-Nya, kita masih dalam iman dan Islam. Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah limpah kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.
 Bertakwalah kepada Allah. Ingatlah pesan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:
 “Bertakwalah kepada Allah di mana pun engkau berada; iringilah perbuatan buruk dengan perbuatan baik, maka kebaikan akan menghapuskan keburukan itu; dan pergaulilah manusia dengan akhlak yang baik.” (HR. Tirmidzi).
Hadirin jamaah jum’ah rahimakumullah,
Kembali atau pulang adalah gejala psikologis. Karena itu jika kita tersesat, tidak bisa menemukan rumah kita, kita menderita. Karena itu kesesatan selalu menjadi lambang penderitaan. Bila dan di mana kita beroleh kebahagiaan?
Di dalam Alquran ada beberapa kata yang menggambarkan pengalaman tertinggi kebahagiaan. Yang paling banyak tidak lain kata salam. Artinya “damai”, tetapi sesungguhnya lebih dari damai. Ada firman Allah SWT berkenaan dengan salam ini – bahwa nanti di akhirat itu
                                  يَوْمَ لَا يَنْفَعُ مَا لٌ وَّلَا بَنُوْنَ ۙ
“hari ketika harta dan anak-anak tidak bermanfaat” illa man ataa Allah biqlbin salim, “kecuali yang menghadap Allah dengan kalbu yang salim”. (Q. 26:89).
Apa makna salim di sini? Salim adalah suatu kondisi di dalam diri kita yang bersifat utuh, intergral. Keutuhan dan intergralitas itu diperoleh dengan ingat kepada Allah. Ingat kepada Allah itu suatu gejala pada diri kita yang merupakan inti ajaran tentang tujuan hidup. Kita ini hidup berasal dari mana, menuju ke mana. Itu kita nyatakan di dalam zikir kepada Allah SWT. Dari mana dan ke mana itu diungkapkan dalam kalimat suci yang serring kita baca: Inna lillahi wa inna ilaihi raaji’uun, “Kita berasal dari Allah dan akan kembali kepada-Nya” (Q. 2:156).
Hadirin jamaah jumah rahimakumullah,
Yang patut kita perhatikan adalah kata ‘kembali’ (raji’un, dari raja’a). ‘Kembali’ ini suatu konsep yang sangat penting. Karena, keberhasilan kembali ke asal itu selalu menimbulkan kebahagiaan. Misalnya, seorang anak selalu ingin kembali ke ibunya. Dan mengapa kalau kita menggendong anak selalu sebelah kiri? Kalau begitu biasanya anak cepat tidur. Karena kalau kita gendong sebelah kiri dan kepalanya didekapkan ke dada, akan kedengaran detak jantung, dan itu menimbulkan suatu perasaan yang sangat damai – karena mengingatkan dia kepada pengalamannya yang di bawah sadar ketika masih ada di dalam rahim. Sebab waktu kita di dalam rahim tidak ada yang kedengaran kecuali detak jantung Ibu.
Karena itu tempat kita disimpan itu disebut rahim, yang artinya “cinta kasih”, suatu sifat dari Allah SWT. Karena itu, setelah lahir pun psikologi atau kejasmanian anak itu juga mengikuti logika-logika tersebut. misalnya, ketika anak lahir belum bisa melihat apa-apa, lama kelamaan melihat terang dan gelap, bisa melihat orang dan bukan orang, serta yang paling dulu dikenal adalah ibunya, karena itu, kalau ada anak menangis, lalu didekap ibunya dan terdiam, itu gejala ‘kembali’ juga.
Pulang itu juga gejala ‘kembali’. Sehingga relevan sekali istilah home sweet home , baiti jannti “rumahku surgaku”. Dan kembali pulang itu bukan gejala fisik, tetapi gejala psikologis atau kejiwaan. Misalnya, oleh suatu hal kita sesat dan tidak bisa menemukan rumah kita, kita menderita. Karena itu kesesatan selalu menjadi lambang penderitaan. Jadi ‘kembali’ atau ‘pulang’ itu gejala psikologis. Dan sesuai dengan relevasinya, ‘kembali’ itu dengan home sweet home, baiti jannati, atau maskan alias tempat menetap. Karena itu nanti di surga, dalam gambaran Quran, kita akan mendapat maskan thayyibah, yaitu tempat-tempat tinggal (masakin jamak maskan) yang indah
يَغۡفِرۡ لَـكُمۡ ذُنُوۡبَكُمۡ وَيُدۡخِلۡكُمۡ جَنّٰتٍ تَجۡرِىۡ مِنۡ تَحۡتِهَا الۡاَنۡهٰرُ وَمَسٰكِنَ طَيِّبَةً فِىۡ جَنّٰتِ عَدۡنٍ‌ؕ ذٰلِكَ الۡفَوۡزُ الۡعَظِيۡمُۙ
Niscaya Allah mengampuni dosa-dosamu dan memasukkan kamu ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, dan ke tempat-tempat tinggal yang baik di dalam surga ‘Adn. Itulah kemenangan yang agung. (Qs. 61:12).
Hadirin jamaah jumah rahimakumullah,
Sejatinya Ayah bunda kita Adam dan Hawa berasal dari surga, itulah kampung halaman kita, itulah tempat sebenar benarnya kehidupan kita. Adam dan hawa diturunkan oleh Allah Swt ke bumi untuk menjalani hukuman atas pelanggaran yang dilakukan terhadap larangan Allah Swt. Sehingga Nabi Muhammad Saw, berpesan bagi kita umatnya dalam menjalani kehidupan
عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ أَخَذَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِمَنْكِبِي فَقَالَ كُنْ فِي الدُّنْيَا كَأَنَّكَ غَرِيبٌ أَوْ عَابِرُ سَبِيلٍ [وَعُدَّ نَفْسَكَ مِنْ أَهْلِ الْقُبُوْرِ] وَكَانَ ابْنُ عُمَرَ يَقُولُ إِذَا أَمْسَيْتَ فَلَا تَنْتَظِرْ الصَّبَاحَ وَإِذَا أَصْبَحْتَ فَلَا تَنْتَظِرْ الْمَسَاءَ وَخُذْ مِنْ صِحَّتِكَ لِمَرَضِكَ وَمِنْ حَيَاتِكَ لِمَوْتِكَ
Dari Ibnu Umar Radhiyallahu anhuma, ia berkata, “Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam memegang kedua pundakku, lalu bersabda, ‘Jadilah engkau di dunia ini seakan-akan sebagai orang asing atau seorang musafir’ [dan persiapkan dirimu termasuk orang yang akan menjadi penghuni kubur (pasti akan mati)].”
oleh karena itu agar kita bisa meraih kebahagiaan kita yang hakiki, yaitu kehidupan di surga milikilah kasadaran,perasaan bahwa hidup kita semata-mata sarana berjuang untuk kita kembali kampung halaman kita Surga melalui penyerahan seluruh hati, pikiran dan perasaan kita hanya mengharap keridhoan Allah Swt. Ibnu Qayyim Al jauziyyah dalam kitabnya Ighasatul lahfan Fie Masayidisy Syaithan mengatakan, Hati yang selamat adalah hati yang sesuai dengan tujuan penciptaanNya. Yaitu hati yang Mengetahui, mengenal, mencintai, merindukan dan ingin berjumpa dengan Allah Swt selaku Rabb nya. Mari kita jaga dan pelihara hati agar senantiasa selamat.
بَارَكَ الله لِي وَلَكُمْ فِى اْلقُرْآنِ اْلعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَافِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيمِ وَتَقَبَّلَ اللهُ مِنَّا وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ وَإِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ العَلِيْمُ، وَأَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا فَأسْتَغْفِرُ اللهَ العَظِيْمَ إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَّحِيْم
Khutbah II:
اَلْحَمْدُ للهِ عَلىَ إِحْسَانِهِ وَالشُّكْرُ لَهُ عَلىَ تَوْفِيْقِهِ وَاِمْتِنَانِهِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ اِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِى إلىَ رِضْوَانِهِ. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وِعَلَى اَلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كِثيْرًا
أَمَّا بَعْدُ فَياَ اَيُّهَا النَّاسُ اِتَّقُوااللهَ فِيْمَا أَمَرَ وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَـنَى بِمَلآ ئِكَتِهِ الْمُسَبِّحَةِ بِقُدْسِهِ وَقَالَ تَعاَلَى إِنَّ اللهَ وَمَلآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِى يآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلِّمْ وَعَلَى آلِ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَنْبِيآئِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلآئِكَةِ اْلمُقَرَّبِيْنَ وَارْضَ اللّهُمَّ عَنِ اْلخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ أَبِى بَكْرٍ وَعُمَر وَعُثْمَان وَعَلي وَعَنْ بَقِيَّةِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ وَتَابِعِي التَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِاِحْسَانٍ اِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ
اَللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآء مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ اللهُمَّ أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَاْلمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ عِبَادَكَ اْلمُوَحِّدِيْنَ وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ اْلمُسْلِمِيْنَ وَ دَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ وَاعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ. اللهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ وَسُوْءَ اْلفِتْنَةِ وَاْلمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا اِنْدُونِيْسِيَّا خآصَّةً وَسَائِرِ اْلبُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عآمَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. رَبَّنَا ظَلَمْنَا اَنْفُسَنَا وَاإنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ اْلخَاسِرِيْنَ.
 عِبَادَاللهِ ! إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْي يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَ

sumber: pemudamuslim.org