Tidak Perlu Kirim Karangan Bunga Cukup Ikut Shalatkan Jenazahnya
Oleh: Ervan Taufiq
Kematian adalah perkara yang pasti akan mendatangi seluruh umat manusia, tanpa mengenal status sosial, pendidikan, umur, jenis kelamin, tempat, situasi dan kondisi apapun ketika ajalnya sudah tiba, maut kan datang menjemput tanpa bisa ditunda tunda atau didahulukan meski sesaat.
Pengetahuan akan kepastian bahwa maut akan menjemput diketahui oleh semua orang, namun kesadaran bahwa dirinya akan mati tidak banyak disadari oleh mayoritas manusia, karena mereka terbuai oleh gemerlapnya kenikmatan dunia hingga mereka terlena dan mabuk asmara dunia. Indikator ini bisa kita saksikan dari penggunaan waktu yang Allah SWT berikan kepadanya, apakah lebih banyak dipakai untuk taat atau untuk maksiat, banyak dipakai untuk tobat atau berbuat laknat?
Ketika Adzan berkumandang jika kita bandingkan orang yang bersegera mendatangi Masjid dengan orang yang terus asyik dengan rutinitasnya lebih banyak mana?
Sikap terlena ini yang akhirnya membuat dia lupa untuk mempersiapkan orang orang yang akan menshalatkan dia Ketika sudah menjadi jenazah, padahal Rasulullah SAW sudah mengabarkan kepada kita betapa utamanya jenazah yang Ketika sudah meninggal dunia bisa disahalatkan oleh 40 orang. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
مَا مِنْ رَجُلٍ مُسْلِمٍ يَمُوتُ فَيَقُومُ عَلَى جَنَازَتِهِ أَرْبَعُونَ رَجُلاً لاَ يُشْرِكُونَ بِاللَّهِ شَيْئًا إِلاَّ شَفَّعَهُمُ اللَّهُ فِيهِ
“Tidaklah seorang muslim meninggal dunia lantas dishalatkan oleh 40 orang yang tidak berbuat syirik kepada Allah sedikit pun melainkan Allah akan memperkenankan syafa’at (doa) mereka untuknya.” (HR. Muslim)
Bahkan kalaupun jamaah sholat jenazah kurang 40 orang namun bisa dibagi menjadi tiga shaf (misal 30 orang, tiap shaf 10 orang), si mayit juga akan mendapatkan keutamaan sholat jenazah tersebut. Rasulullah bersabda:
مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَمُوتُ فَيُصَلِّى عَلَيْهِ ثَلاَثَةُ صُفُوفٍ مِنَ الْمُسْلِمِينَ إِلاَّ أَوْجَبَ
“Tidaklah seorang muslim mati lalu dishalatkan oleh tiga shaf kaum muslimin melainkan do’a mereka akan dikabulkan.” (HR. Tirmidzi dan Abu Daud; hasan)
Seperti diketahui, orang-orang yang mensholatkannya akan mendo’akan dalam sholat jenazah agar si mayit mendapatkan ampunan Allah dan rahmat-Nya. Doa itu akan dikabulkan Allah. Dan dengan demikian, ia akan diselamatkan dari siksa kubur dan kelak dimasukkan ke dalam surga. Bukankah orang yang diampuni dan dirahmati Allah, tempat kembalinya adalah surga?
Perkara mempersiapkan orang sebanyak 40 orang yang shaleh dan tidak syirik kepada Allah SWT, yang kelak akan menshalatkan kita ketika kita sudah meninggal dunia sering luput dari curahan perhatian dan ikhtiar kita, apalagi di zaman saat ini, dimana teknologi digital demikian perkasa fenomena ucapan duka cukup lewat media, ataupun melalui kiriman karangan bunga. Sementara karangan bunga yang dikirimkan meskinya jumlahnya berjubel puluhan, ratusan bahkan ribuan pun tak kan berarti apa apa, Ketika tidak ada yang bersedia menshalatkan kita.
Ada sebuah kejadian yang sungguh sangat menyayat hati dari peristiwa kematian seorang pembesar negeri yang ketika hidup di dunia memiliki pangkat tinggi, relasi dan kolega yang banyak, pengaruhnya begitu kuat yang kemudian meninggal dunia, kisahnya berikut ini.
Ada seseorang yg kami kenal, sebagai seorang yang diberikan kedudukan yg tinggi didunia ini di hadapan manusia. Beberapa waktu yg lalu, beliau rahimahullah wafat.
Maa syaa Allah, selang satu jam, tersiar berita duka, semua masyarakat bergerak dan menyampaikan dukacita dari berbagai media.
Tamu berdatangan ke rumah megahnya, tidak sampai 3 jam, jalan raya di sekitar rumah duka, penuh dengan karangan bunga yang tersurat dari banyak orang besar di negeri ini.
Jalanan ditutup untuk umum, dijaga polisi militer, Patroli pengawal disiapkan, panitia pengurusan jenazah didatangkan khusus.
Keluarga tidak mau pengurusan oleh jamaah masjid tapi tak masalah hingga selesailah jenazah dikafani, dan siap dishalatkan. Diluar rumah, orang ratusan berjejalan, hadir, maka diputuskan jenazah dishalatkan di masjid, segera kami siapkan. Masjid siap, jenazah sudah dihadapan imam, tetapi yang berbaris di belakang imam baru 6 orang ! Subhanallah, kami susul para pelayat di luar masjid,
“Pak, bu, ayo ambil wudhu ! Shalat jenazah akan dimulai ! Ayo pak !”, kami menyeru.
Namun tamu-tamu elite dan sosialita ini berujar diluar dugaan
“Ini susah buka sepatunya, dek !” atau “Kami do’akan saja dek, dari sini ” timpal ibu yang lain sambil bercermin ke kaca mobil.
Subhanallah, kami seru tetangga-tetangga kampung kami yg sama-sama hadir menyaksikan prosesi megah ini,
“Pak, bu, ayo cepet wudhu !
Ayo pak, diminta keikhlasannya !!”
Bapak ibu tetangga kami ini hanya menggeleng, sambil tersenyum,
“Nggak dek, malu banyak orang besar !
Kami terhenyak menyerah.
Akhirnya kami kembali kedalam masjid, yg saat itu terhimpun sekitar 11 orang yg kemudian kami bagi menjadi 3 shaf dan Jenazahpun dishalatkan.
Semoga Allah SWT mengampuni almarhum, menyayangi beliau dan memasukkan beliau ke dalam syurgaNYA yg penuh kenikmatan.
Ibrah Bagi Yang Hidup
Berkawanlah dengan mereka yg pada waktunya, ikhlas menyalatkan jenazah kita, bahkan walaupun harus menempuh jarak.
Mereka yang ikhlas mau mendo’akan ampunan Allah SWT bagi kita ketika jasad ini sudah kaku. Berdekatanlah dengan mereka yang benar-benar menyayangi kita dunia akhirat. Karena karangan bunga tidak menambah apa-apa.
Takziah dan ikut mensholatkan jenazah serta mendoakan itulah yg paling utama,
Carilah teman yg taat dunia akhirat supaya kelak kita tidak hanya menerima kiriman karangan bunga.
Kategori: Majelis Ilmu
Bidang Media Dan Penggalangan Opini
PB Pemuda Muslimin Indonesia

sumber: pemudamuslim.org