Sekjend Syarikat Islam, Dr. Ferry Juliantono, saat berikan sambutan Munas Alim Ulama SI, Jakarta 21/3/2022 – foto : Ist.

Jalurdua.com – Jakarta | Walaupun fokus Syarikat Islam (SI) ke depan lebih pada dakwah ekonomi dan membangun kemandirian dan kekuatan ekonomi umat, sebagaimana nilai dasar pembentukannya di tahun 1905, persyarikatan tidak akan pernah melupakan problem social yang hidup dalam realitas umat sehari-hari.

Berkaca dari berbagai upaya peminggiran umat melalui aneka isu, SI berkomitmen membangun desk Anti-Islamophobia sesegera mungkin.

Hal tersebut disampaikan pada pembukaan Musyawarah Nasional Alim Ulama Syarikat Islam di Jakarta, pagi tadi oleh Sekretaris Jenderal SI, Ferry Joko Juliantono, Senin 21/3/2022.

Menurut Ferry, runtuhnya bangunan islamophobia (ketakutan berlebihan yang dibangun tentang Islam) yang dikembangkan ulang sejak 11 September 2001, seharusnya membangkit-kan umat Islam untuk bergerak dan menunjukkan agamanya sebagai agama welas asih bagi dunia (rahmatan lil ‘alaimin).

“Sementara Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) telah menetapkan 15 Maret 2022 sebagai hari perlawanan terhadap phobia Islam, saya melihat umat Islam sendiri kurang menyambutnya dengan berbagai gerakan yang menunjukkan bahwa agama ini bertolak-belakang dengan wajah yang selama ini dikembangkan orang-orang yang memusuhinya. Ini agama welas asih yang bisa membawa dunia ke dalam kedamaian penuh sejahtera alias agama Rahmatan lil alamin,” kata Ferry.

Dirinya menunjukkan contoh bagaimana mereka yang selama ini mengembangkan Islamophobia, justru menjadi pihak yang senantiasa menunjukkan kekejian. Misalnya, negara Zionis Israel yang tanpa alasan menyerang rakyat Palestina dan Masjid Al-Aqsa tahun 2021 lalu.

Sementara di sisi lain menurut Ferry ada sikap humanis Taliban saat memenangkan Afghanistan dan mengusir keluar Amerika Serikat, yang mempersilakan pasukan AS dan warga berbagai negara asing untuk pulang ke negara mereka.

“Itu berbeda jauh dengan peristiwa Perang Vietnam juga Kamboja, yang menimbulkan masalah kemanusian,” tegas Ferry.

Menurutnya, semua itu sejatinya tak lepas dari kepemimpinan Presiden Joe Biden yang mulai berkuasa tahun lalu. Biden, dengan pertimbangan internal mereka yang tak lepas dari peran Council on American Islamic Relations (CAIR), berhasil mendorong Partai Demokrat menginisiasi UU Anti-Islamophobia dan sukses digoalkan di wilayah hukum.

Yang justru ganjil, kata Ferry, sementara AS telah membangun landasan perundang-undangan untuk menghapus Islamophobia, di negeri kita sendiri isu-isu yang cenderung memojokkan Islam justru terkesan terus dikembangkan.

“Misalnya wacana radikalisme atau Islam radikal. Dengan perkembangan dunia di saat-saat terakhir ini, wacana radikalisme Islam di Tanah Air sebenarnya ganjil dan terasa melawan elan vital sejarah alias zeitgeist. Dunia berjalan ke sisi kanan, eh, Indonesia sendirian memilih sisi kiri dan melawan arus,” ujar mantan tahanan politik ini.

Itulah antara lain berbagai alasan untuk dibentuknya desk Anti-Islamophobia di SI. “Itu raison d’etre-nya. Sangat clear bahwa dunia Islam harus merespons secara konstruktif perkembangan yang terjadi di dunia saat ini. Selain mengembangkan wacana anti-Islamophobia, tujuan yang lebih besar adalah disahkannya Undang-Undang Anti-Islamophobia di Indonesia. Ini langkah awal yang akan kami sosialisasikan sehingga umat Islam yang menjadi wakil rakyat di DPR juga sadar peran mereka,” kata Ferry.

Tentang isu radikalisme sendiri, Sekjen SI yang bergelar doktor ini sebenarnya merasakan banyak keganjilan, paling tidak, isu tersebut mentah secara intelektual.

“Coba baca, Webber dan Kruglanski saja menyatakan akar radikalisme itu lebih sering karena krisis sosial-ekonomi, adanya degradasi peran institusi politik serta penurunan standard hidup masyarakat. Selama isu radicalism ini berlangsung, tak sekali pun saya dengar institusi yang getol meneriakkan radikalisme ini bicara soal keadilan sosial dan hal-hal yang relevan dengan itu. Malah yang dimunculkan justru daftar ulama radikal yang diminta tak diundang berceramah,” papar Ferry miris.

Untuk itu pula dirinya mengimbau agar seluruh Muslim Indonesia menyadari persoalan yang mereka hadapi saat ini.

“Desk ini juga akan berupaya membangun kesadaran dan kebanggaan menjadi seorang Muslim. Sebab hanya orang yang bangga yang bisa diajak membangun negara dan berjuang meraih kesejahteraan hidup yang lebih baik,” tutupnya.

sumber: jalurdua.com