KALTIM – Indonesia merupakan produsen dan eksportir minyak sawit terbesar di dunia, yang penghasil terbesar bahan utamanya berada di pulau Sumatra dan Kalimantan. Hal ini didukung oleh faktor geografis dan iklim diwilayah tersebut sehingga kelapa sawit dapat tumbuh secara maksimal” ucap dani sekjend semmi kaltim”.

Sejalan dengan berkembangnya Industri kelapa sawit di negri ini, justru ada sebuah dampak negatif yang melanda, diantaranya ialah penyempitan hutan yang terus menurus dilakukan demi kepentingan perluasan area perkebunan kelapa sawit, tanpa mempertimbangkan dampak yang akan ditimbulkan, sehingga hal ini banyak mendapatkan pertentangan di kalangan masyarakat dan organisasi, baik nasional dan internasional. Indonesia yang mendapatkan gelar sebagai paru-paru dunia kini terancam statusnya akibat penyempitan hutan yang tiap tahun terus dilakukan, dan saat ini posisi Indonesia masuk dalam peringkat ke tiga penghasil gas emisi rumah kaca terbesar di dunia setelah Republik Rakyat Tiongkok dan Amerika Serikat.

Minyak goreng adalah hasil olahan buah kelapa sawit yang paling populer, kini minyak goreng telah menjadi bahan pangan yang wajib ada di dapur, tak heran ketika terjadi bencana, banyak bantuan bahan makanan diberikan oleh pemerintah, yang salah satu diantaranya ialah minyak goreng.

Ditengah tingginya produksi minyak goreng, Indonesia telah tercatat dalam dua dekade terakhir mengalami kelangkaan ketersediaan minyak goreng, sehingga menyebabkan tingginya harga minyak goreng di pasar. Pada tahun 2007 lalu Indonesia pernah mengalami kelangkaan ketersediaan minyak goreng yang setelah diselidiki penyebabnya karena besarnya jumlah ekspor sementara ketersediaan cadangan yang tidak mencukupi kebutuhan konsumsi dalam negri. Kini 4 bulan sudah sejak Desember 2021 harga minyak goreng di pasaran melambung secara derastis hingga Rp. 14.000 – 19.000 per liter. Meski kini harganya telah mengalami penurunan, ketersediaannya terbilang sangat sedikit di pasaran, sehingga menyebabkan terjadinya kerumunan dan antrian panjang di beberapa pusat perbelanjaan yang menyediakan stok minyak goreng “ucap dani”.

Baru-baru ini tepatnya tanggal 12/3/2022 terjadi kabar duka di Kabupaten Berau Kalimantan Timur terkait seorang Ibu yang dinyatakan tewas setelah pingsan dalam mengikuti antrian pembelian minyak goreng disalah satu pusat perbelanjaan. Lalu tanggal 15/3/2022 di Samarinda seorang ibu berumur 49 tahun dinyatakan tewas usai kelelahan berkeliling mengikuti antran minyak goreng.
Padahal dalam UU No. 18 Tahun 2012 Tentang Pangan, mengatakan bahwa baik pemerintah pusat dan daerah betanggung jawab atas ketersediaan bahan pangan dan stabilitas harga di masyarakat. “Sudah menjadi hak setiap  warga negara untuk hidup dalam kesejahteraan yang telah diatur secara kontitusional. Pemerintah sebagai pemegang kekuasaan harusnya dapat segera memecahkan permasalahan tingginya harga minyak goreng ini agar tidak ada lagi korban akibat kelalaian pemerintah” (ucap Dani selaku Sekertaris Jendral PW SEMMI Kalimantan Timur)

Akhir-akhir ini kita melihat banyak bantuan minyak goreng gratis yang dilakukan oleh bebrapa partai-partai politik berderar di media massa. “Bantuan minyak goreng gratis atapun dengan harga murah bukanlah solusi atas permasalahan yang ada, sebab akan memicu terjadinya panic buying di masyarakat dan justru akan memperparah situasi(ucap Dani).

Menjelang bulan suci ramadhan rasanya sudah menjadi budaya ketika harga bahan pangan melambung tinggi, bukan lagi hanya minyak goreng, namun bahan pangan utama pun akan melambunh tinggi. “Sudah saatnya pemerintah memfokuskan untuk menyelesaikan permasalahan ini  dengan mengerahkan segala elmen-elmennya, baik dari pusat hingga tingkat kabupaten/kota, sehingga pemerintah dapat jeli membaca kondisi yang terjadi dilapangan, agar permasalahan ini dapat diselesaikan hingga ke akar-akarnya” (ucap Dani).

“Ini adalah permasalahan perut, yang jika tidak segera diselesaikan maka akan berpotensi menimbulkan gejolak nasional” (pungkas Dani).

sumber: mediaindonesiaraya.co