MUTIARA-MUTIARA ILAHIAH DI DALAM AL-QUR’AN
MUTIARA-MUTIARA DI DALAM KALAIMAT A’UDZU BILLAH
TAFSIR LAFAL-LAFAL DALAM KALIMAT A’UDZU BILLAH
Ahmad Thib Raya UIN Jakarta
Jakarta-Matraman, Jumat, 11 Maret 2022
Apa makna dari kata-kata yang terdapat di dalam kalimat أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ? Mari kita lihat uraiannya sebagai berikut: lafal-lafal isti’adzah dapat dijelaskan sebagai berikut:
PERTAMA, kata أعوذ بـ. Kata ini dengan bentukan-bentukannya (derivasinya) selalu digandengkan dengan kata بـ. Kata أعوذ dan kata بــ tidak dapat dipisahkan satu sama lain, karena keduanya merupakan satu kesatuan. Kedua kata tersebut mengandung satu kesatuan makna, yang berarti “Aku berlindung kepada”, bukan “Aku berlindung dengan”. Memang, kata بـ kalau berdiri sendiri dan bukan merupakan satu kesatuan dengan kata lainnya, maka kata itu diartikan “dengan”. Seperti أَكْتُبُ بِالْقَلَمِ (Saya menulis dengan pena). Kata بـ di sini bukanlah merupakan satu kesatuan dengan kata أكتب. Sinonim kata أعوذ بـ di dalam bahasa Arab adalah أَسْتَجِيْرُ dan أَلْجَأُ yang keduanya sama mengandung makna “berlindung”.
KEDUA, kata الله . Kata الله adalah lafal untuk zat yang sangat mulia dan agung. Karena itu الله selalu disebut sebagai lafazh al-jalalah (lafal atau kata yang agung). Ada yang berpendapat bahwa kata الله dilihat dari sisi bahasa adalah sebuah kata yang mendapat tambahan ال (alif dan lam). Kata dasarnya adalah إِلَهٌ yang berarti “tuhan”. Setelah ditambah ال, maka kata itu menjadi الله, yang berarti “Tuhan (itu)”. Pendapat ini tidak terlalu kuat, sehingga ulama lain tidak menyetujui kata الله diuraikan seperti itu. Tetapi, kata الله itu, menurut pendapat mereka, adalah nama dari sebuah zat yang maha suci, yang maha tinggi dan agung, wajib adanya, dan tidak bersekutu dengan sesuatu apa pun.
Ibn Katsir, seorang pakar tafsir, berpendapat bahwa الله merupakan nama bagi Tuhan Yang Maha Agung dan Tuhan Yang Maha Tinggi, yang memiliki segala sifat yang sempurna, seperti yang digambarkan di dalam Al-Qur’an, S. Al-Hasyr [59]: 23 yang menyatakan:
هُوَ ٱللَّهُ ٱلَّذِي لَآ إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ ٱلۡمَلِكُ ٱلۡقُدُّوسُ ٱلسَّلَٰمُ ٱلۡمُؤۡمِنُ ٱلۡمُهَيۡمِنُ ٱلۡعَزِيزُ ٱلۡجَبَّارُ ٱلۡمُتَكَبِّرُۚ سُبۡحَٰنَ ٱللَّهِ عَمَّا يُشۡرِكُونَ ٢٣
“Dialah Allah yang tiada Tuhan selain Dia, Raja, yang Maha Suci, yang Maha Sejahtera, yang Mengaruniakan Keamanan, yang Maha Memelihara, yang Maha perkasa, yang Maha Kuasa, yang memiliki segala Keagungan, Maha suci Allah dari apa yang mereka persekutukan.”
Al-Qurthubi, juga pakar tafsir lainnya, menyatakan bahwa Allah itu adalah nama yang paling besar dari nama-nama Allah. Ia adalah nama bagi wujud yang maha benar, yang menghimpun segala sifat ketuhanan, yang tidak ada Tuhan selain Dia.

sumber: facebook.com/ahmad.thibraya.12